Nama saya Rikza Zeininda saya anak pertama dari 2 bersaudara. Saya
mempunyai 1 adik laki-laki yang bernama Khafid Zeinanda. Ayah saya seorang
wiraswasta dan ibu saya sebagai ibu rumah tangga. Pada waktu saya masih kecil
saya punya cita2 menjadi seorang dokter karna dokter itu hebat bisa
menyembuhkan orang sakit dan juga uangnya banyak. Saya dulu seolah SD di dekat
rumah saya. Setelah SMP saya bersekolah di SMP KHADIJAH SURABAYA.
Dan pada waktu SMA saya
tidak merasakan bagaimana rasanya SMA, karna saya dipondokkan oleh orang tua
saya. Jadi saya tidak pernah merasakan bagaimana susah sedihnya SMA. Tetapi
saya amat bersyukur sekali karna saya dipondokkan. Banyak sekali manfaat yang
didapat dari saya mondok. Apalagi saya dipondokkan di Pondok Pesantren Darussalam
Gontor Putri 1 di sambirejo, mantingan, ngawi.
Pondok yang terkenal dengan disiplin yang tinggi. Dan saya
merasakan sekali bagaimana kehidupan disiplin disana. Kadang senang kadang
sedih kadang susah kadang bahagia. Dan yang saya dapat digontor sangat banyak
sekali seperti arti sahabat, karna sabahat sebagai pengganti orang tua dikala
sedih dan bahagia.
Bahasa arab dan bahasa inggris, sebagai pengantar sehari-hari. Dan
jika ketahuan berbicara bahasa indonesia atau bahasa daerah maka akan dikenakan
sanksi yang sesuai dengan tingkatan ia belajar di gontor.
Mental, disana kita sebagai santri banyak cobaan yang harus kita
hadapi seperti ujian tengah semester dan akhir semester. Di sana ada ujian
lisan dan ada juga ujian tulis. Ujian lisan seperti wawancara dalam satu
ruangan ada 2 ustadah dan ada 2 kakak kelas 6 yang siap menguji santrinya
satu-persatu, dalam satu minggu. Setelah
ujian lisan maka diadakan ujian tulis selama 10 hari disaat inilah perjuangan
pun dimulai karna kita harus belajar dengan sungguh-sungguh agar kita berhasil
dalam menjawab soal yang tulisanya arab semua. Tidak ada kata mencontek,
apabila ketahuan maka akan dikeluarkan dari gontor. Konsekwensi yang sangat
berat sekali.
Fisik, apabila kita melakukan kesalahan sedikit saja bahkan bisa
dianggap sepele tetap saja mendapatkan hukuman, seperti datang terlambat ke
masjid hukumanya tergantung tingkatanya seperti dijemur setelah solat atau si
suruh bersih-bersih masjid, lingkungan sekitar pondok dan lain sebagainya.
Saya bangga sekali bisa lulus di gontor. Ada kebanggan tersendiri
yang saya dapat. Dan orang tua pun juga merasakan kebanggaan yang mendalam.
Bahasa yang begitu ketatnya ditonjolkan disana dan juga kehidupan yang sulit.
Tetapi apabila dirasa sulit ya sulit tetapi kalau dirasa enjoy nyaman maka akan
nyaman dan enjoy pula.
Penggumuman kelulusan pun diumumkan, dan saya mendapatkan
pengabdian bebas. Digontor setiap santrinya yang lulus diwajibkan untuk
menagbdi sesuai dengan penempatan pengabdian ynag ditentukan. Ada yang ngabdi
bebas, ngabdi di pondok alumni yang sudah di tentukan oleh gontor, dan ngabdi
didalam pondok gontor sebagai ustadah disana yang sudah ditentukan pula oleh
gontor.
Dan saya pun pulang ke kampung halaman saya tercinta di Surabaya.
Saya pun mengabdi di suatu yayasan sekolah SD Islam Al-Azhar Surabaya. Saya
mengabdi sebagai guru pengabdian disekolah tersebut. Besama dengan teman saya
seperjuangan di gontor.
Tugas saya selama mrngabdi di sekolah tersbut adalah sebagai guru
iqro’ kelas 1 dan kelas 2 dari jam 7 pagi sampai jam 9. Setelah itu istirahat
dan kemudian masuk kelas untuk menjadi guru pendamping di kelas yang sudah
ditentukan oleh kepala sekolah. Dan saya mendapatkan kelas 2. Di kelas 2 ada 2
kelas, yaitu kelas mekkah dan kelas madinah. Hari senin saya di kelas madinah,
selasa dikelas mekkah begitupun seterusnya.
Pengalaman yang saya dapet disana sangat banyak sekali, seperti
harus sabar dalam menghadapi murid / anak didik, harus telaten dalam menghadapi
murid / anak didik, mempunyai motifasi dalam pembelajaran agar anak didik tidak
jenuh dalam belajar mengajar. Ini yang memotifasi saya untuk menjadi guru SD
karna banyak suka duka yang diperoleh.
Setahun sudah saya mengabdi dan saatnya saya meneruskan perjuangan
yang harus saya tempuh. Yaitu melanjutkan kejenjang pendidikan yang lebih
tinggi. saya mempunyai keinginan untuk menjadi guru SD, jadi saya masuk kejurusan PGMI.
4 Taun yang akan datang , jika saya sudah menjadi sarjana saya
ingin mengajar disuatu yayasan jika dimungkinkan saya ingin meneruskan studi saya
di pasca sarjana. Saya ingin kerja dan juga melanjutkan studi saya, dan jika
ada yang melamar saya dan dibolehkan orang tua untuk menikah. Maka saya ingin
menikah dan tetap melanjutkan studi saya dan tetap bekerja.
Semoga apa yang saya tulis adalah suatu doa yang dapat terwujud dimasa depan. Dan semoga doa tersebut dapat terkabul. Jika
ALLAH meridhoi dan dapat diberi yang terbaik. Amin ..