"Civil
Society" Berperan Besar dalam Pilkada DKI
Peran civil
society atau komunitas masyarakat sipil dalam pemilihan kepala daerah
(Pilkada) DKI Jakarta 2012 terlihat lebih menonjol dibandingkan pesta demokrasi
yang sama pada 2007. Peran yang terlihat jelas adalah mengawal proses
penyelenggaraan Pilkada DKI. Hal itu diungkapkan Ketua Komite Independen
Pemantau Pemilu (KIPP).
"Yang unik di
Pilkada ini, banyak elemen organisasi masyarakat sipil yang turut memantau,
ikut mengawal, berpartisipasi aktif, dan mengawasi penyelenggaraan
pemilukada," kata Wahyu. Ia mengungkapkan, pada pelaksanaan Pilkada
tahun ini, seluruh komponen masyarakat ikut memantau. Menurutnya, hal ini baik
bagi pendidikan demokrasi. Wahyu juga berharap apa yang dilakukan civil
society pada Pilkada DKI dapat berkembang dan kembali terjadi pada
Pemilu dan Pemilihan Presiden 2014.
"Di Pilkada DKI
2012 ini banyak sekali civil society seperti KIPP, Perkumpulan
untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem), Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat
(JPPR), Indonesia Corruption Watch (ICW), dan lainnya itu sebagai wujud kepedulian
masyarakat untuk terus mengawal jalannya proses demokrasi di Jakarta ini,"
Kampanye
Selain itu, Wahyu juga
menekankan, definisi kampanye harus ditinjau ulang. Selama ini, jika memenuhi
empat unsur, baru dapat dikategorikan sebagai kampanye. "Misalnya dua
unsur kampanye terpenuhi, itu dapat ditindaklanjuti. Kalau empat unsur baru
terpenuhi unsur kampanye, maka akan menjadi celah akal-akalan bagi pasangan
calon untuk melakukan kampanye," ujar Wahyu. Sementara, terkait isu
yang bergulir, menurutnya, sama dengan Pilkada DKI tahun 2007, yaitu seputar
politik uang dan isu SARA. "Namun, isu itu tampaknya tidak terlalu
memengaruhi pemilih,"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar